"Masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang"

Rabu, 27 April 2011

Hakekat, Tujuan dan Bentuk Pelayanan Pastoral Pernikahan




HAKEKAT, TUJUAN, DAN BENTUK

PELAYANAN PASTORAL PERNIKAHAN

(Bachtiar Sihombing, MACE)


PENDAHULUAN
H. Norman Wright di dalam bukunya So You’re Getting Married mengatakan bahwa pernikahan adalah sebuah hadiah, sebuah kesempatan untuk belajar tentang cinta, sebuah perjalanan yang harus kita lalui dengan berbagai pilihan dan konsekuensi, dan sebuah panggilan untuk melayani, bersahabat dan menderita.[1]  Atau dengan kata lain, pernikahan adalah sesuatu yang maknanya jauh lebih dalam dari sekedar persatuan dua insan yang saling mencintai.
Hal yang sama juga diajarkan oleh Alkitab.  Karena itu, tidak heran apabila di dalam Alkitab terdapat banyak sekali catatan-catatan yang berkaitan dengan kehidupan pernikahan dan keluarga.  Sebagai contoh, kita bisa melihat banyak sekali catatan kehidupan keluarga dari para pemimpin yang terkemuka, seperti Abraham, Musa, dan Daud.[2]  Tuhan Yesus sendiri, meski Ia tidak menikah, menyetujui lembaga pernikahan dan keluarga.  Kalau kita perhatikan kitab Matius, Ia melakukan mujizat yang pertama kali dalam perjamuan kawin.  Selain itu, Tuhan Yesus juga mengatakan bahwa pernikahan adalah sesuatu yang abadi, karena yang mempersatukan suami-isteri adalah Allah sendiri (Mrk. 10-5-9).  Bagian-bagian tersebut menunjukkan betapa berharganya pernikahan di mata Allah.
Namun kejatuhan manusia ke dalam dosa (Kej. 3) telah menghancurkan semua itu.  Alkitab mencatat banyak sekali kehidupan pernikahan yang mengalami masalah, seperti perceraian, perzinahan, ketidak setiaan, dan keluarga yang berantakan.  Akibatnya banyak orang yang menganggap bahwa pernikahan yang langgeng tidak mungkin terjadi lagi, dan mereka takut untuk membangun pernikahan.
Masalah ini harus menjadi perhatian utama dari setiap hamba Tuhan.  Karena kemungkinan jemaat mereka akan menghadapi masalah-masalah tersebut di dalam kehidupan pernikahan mereka.  Dan seringkali para hamba Tuhan menjadi tempat untuk mengadu dan meminta jalan keluar.
Ada banyak sekali cara yang ditempuh oleh hamba-hamba Tuhan dalam menyikapi masalah ini, dan salah satunya dengan mengadakan konseling pra-pernikahan.  Konseling ini sangat penting, karena konseling ini dapat membantu setiap pasangan yang akan menikah untuk mengenal pasangan mereka dan melihat hal-hal yang akan mereka hadapi dalam kehidupan pernikahan, sehingga beberapa masalah yang mungkin terjadi dapat dicegah.
Karena melihat manfaat tersebut, maka ada banyak hamba Tuhan yang mulai mendorong jemaatnya untuk mengikuti koseling pra-pernikahan sebelum menikah.  Namun untuk melakukan sebuah konseling pra-pernikahan, setiap hamba Tuhan dan konselor Kristen perlu mengerti terlebih dahulu bentuk-bentuk konseling terhadap pasangan yang akan menikah, dan hal-hal yang harus dibahas di dalam konseling tersebut.
Karena melihat kebutuhan akan pengetahuan tentang bentuk-bentuk konseling dan hal-hal yang harus dibahas di dalam koseling pra-pernikahan, maka penulis menyusun makalah ini.  Harapan penulis, makalah ini dapat menolong setiap hamba-hamba Tuhan untuk mempersiapkan jemaat-jemaat yang akan menikah, sehingga beberapa masalah-masalah yang mungkin terjadi dapat dicegah.


I. 1.  Hakekat


Saat yang tepat untuk dapat memulai menangani masalah-masalah dalam pernikahan dan keluarga adalah sebelum masalah itu sendiri timbul.  Secara ideal, persiapan pernikahan dimulai ketika seorang individu masih berada pada masa kanak-kanak.  Jikalau orangtuanya mempuanyai hubungan yang baik sebagai suami istri, tentu anak-anak tersebut akan belajar membangun pernikahan yang baik di kemudian hari.
Apapun yang mereka pelajari dari rumah tangga atau keluarga akan mempengaruhi sikap hidup di kemudian hari.  Banyak pasangan mengahadapi hari pernikahan mereka dengan perasaan campur aduk antara keinginan yang meluap-luap dan keragu-raguan.  Dengan menolong kelaurga untuk menajdi model bagi anak-anak mereka, pemimpin gereja memberikan sumbangsih yang sangat berharga untuk suksesnya pernikahan-pernikahan yang akan datang.[3]
         Kalau kita perhatikan hakekat dari melakukan Konseling Pranikah dari sudut kekristenan adalah karena kita menyadari bahwa konseling Kristen itu memiliki keunikan, yaitu:
1.      Orang Kristen percaya, bahwa Allah menciptakan langit, bumi serta segala isinya, dan menolong segala yang ada dengan firmanNya yang penuh kuasa (Ibrani 1:1-3).  Allah menciptakan manusia dengan segala kebebasannya (I Yoh 1:8-9) dan Kristus mati untuk menebus segala dosa dan kesalahan kita (Ibrani 7:24-25; I Tim 2:4-6).
2.      Konseling Kristen mempunyai misi yang khusus, yaitu memperkenalkan Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi dan Penebus dosa, sehingga orang Kristen tidak saja mengakui segala dosa, tetapi juga memperoleh anugerah pengampunan dosa, diperdamaikan dengan Allah dan memulai hidup baru yang dipimpin oleh Roh Kudus.
      Memang ada banyak konselor yang tidak pernah berbicara mengenai Kristus dalam percakapan konselingnya, tetapi seringkali juga banyak konselor yang membicarakan hal-hal rohani dengan gegabah atau terlalu cepat.  Seorang konselor harus sensitif terhadap pimpinan Roh Kudus, dan percaya, bahwa Ia akan membimbing dan menunjukkan saatnya yang tepat untuk berbicara mengenai hal rohani.  Orang-orang yang datang pada kita dan minta bimbingan biasanya datang dengan persoalan yang kompleks, baik jasmani, gejala-gejala kejiwaan maupun kebutuhan rohani.  Karena itu, jangan kita hanya menekankan hal yang spiritual dan melupakan gejala yang lain, yang juga harus diatasi; ataupun sebaliknya kita memperhatikan gejala-gejala jasmani dan kejiwaan saja serta meremehkan kebutuhan rohani.  Hukum utama dan amanat Agung mengajarkan kepada kita untuk melihat atau memfokuskan diri pada seluruh keberadaan manusia dan kebutuhannya. 
3.      Konseling Kristen mempunyai metode yang unik. 
Baik konseling Kristen maupun konseling non-Kristen, menekankan “listening”, “empathy”, tanya jawab yang terarah, pemberian dorongan, mengkonforntasikan konsele dengan kelemahan/kesalahannya, dan lain-lain; namun konselor Kristen memakai metode-metode itu sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab.

I. 2. Tujuan Pelayanan dan Pastoral anggota jemaat

         Konseling persiapan pernikahan bertujuan untuk mempersiapkan dan menolong individu, pasangan-pasangan, bahkan kadang-kadang anggota keluarga yang lain untuk menciptakan suasana pernikahan yang bahagia.  Seperti halnya dengan pencegahan penyakit yang dilakukan untuk mencegah timbulnya penyakit dan menjaga kesehatan tubuh, demikian juga dengan bimbingan persiapan pernikahan.  Bimbingan persiapan pernikahan diharapkan untuk dapat mencegah timbulnya kesulitan dalam pernikahan dan kehidupan rumah tangga, disamping tentunya untuk menolong membangun hubungan pernikahan yang sehat dan memuaskan.  Dalam konseling ini, paling tidak ada tujuan yang harus diperhatikan, yaitu[4]



I. 3.  Bentuk Pelayanan dan Pastoral Anggota Jemaat Yang Akan membentuk Keluarga Baru
            Sebenarnya, tindakan gereja dalam hal pelayanan dan pastoral terhadap anggota jemaat yang akan membentuk keluarga baru bukanlah dimulai ketika jemaat itu akan menikah akan tetapi memiliki beberapa tahap, yaitu:[5]
1.         Melalui penggembalaan bagi keluarga-keluarga kristen. 
Dalam hal ini, gereja dapat melakukan pembinaan hari demi hari, baik itu melalui khotbah-khotbah yang bertemakan kehidupan pernikahan atau keluarga; pembinaan pada saat-saat pembesukan.
2.         Melalui Pembinaan anak-anak remaja dan pemuda. 
Dalam hal ini pelayanan dan pastoral dapat dilakukan dengan memberikan penjelasan-penjelasan tentang:
-          Bagaimana mereka menemukan teman hidup,
-          Bagaimana mempersiapkan diri dalam pernikahan,
-          Konsep keluarga Kristen yang benar,
3.         Melakukan katakisasi pernikahan.
Dalam katakisasi ini, muatan pembahasan menekankan beberapa segi, yaitu:
a.       Theologis, menekankan tentang pernikahan menurut kebenaran iman Kristen.
b.      Psikologis, menekankan tentang pengenalan pribadi masing-masing, hal-hal mengenai cara berinteraksi, komunikasi, dll.
c.       Medis, penekanan akan pengenalan dari sudut medis tentang pernikahan; hubungan seksual, alat kontrasepsi yang baik, pemeliharaan kesehatan.   
  
1.      Supportive – Konseling, yaitu bentuk konseling dengan memberi penghiburan dan penguatan bagi mereka yang berada dalam pergumulan dan penderitaan.   
2.      Confrontational – Konseling, yaitu bentuk konseling yang langsung memperhadapkan si konsele dengan kesalahan-kesalahan yang menyebabkan adanya masalah-masalah itu.  Dalam hal ini, konfrontasi tidak hanya terbatas pada diskusi mengenai dosa atau tingkah laku yang buruk saja, tetapi menolong konsele untuk lebih memahami tindakan mereka sendiri, mendorong mereka untuk mendengar apa yang mungkin tidak mereka sukai, bahkan menolong mereka untuk melakukana langkah-langkah perbaikan yang selama ini mereka tolak.
3.      Educative – Konseling, yaitu konseling harus juga meliputi pengajaran dimana tingkah laku yang tidak efektif dapat diperbaiki dan konsele ditolong untuk belajar tingkah laku yang lebih baik.  
4.      Spiritual – Konseling.  Memang setiap konseling Kristen adalah spiritual konseling, tetapi yang menjadi masalah adalah bahwa seorang konselor tidak bisa secara sembarangan mengemukakan hal-hal rohani apalagi memakai hal-hal rohani sebagai topeng,  sebab adakalanya problema yang dikemukakan oleh konsele adalah hal-hal non-spiritual, atau adakalanya si konsele memakai hal-hal rohani untuk menyembunyikan masalah yang sebenarnya, atau yang sebaliknya yaitu menyembunyikan kebutuhan akan hal-hal rohani.
5.      Group – Konseling, bentuk konseling ini adalah melibatkan beberapa orang sekaligus (mungkin itu kedua belah pihak yang bermasalah, atau pihak keluarga).  Keunikan dari bentuk konseling ini adalah seorang pemimpin dapat menyediakan tempat untuk kerja sama dalam membagikan perasaannya secara jujur, saling belajar dari pengalaman orang lain, saling mendukung, menasihati, dan menolong satu terhadap yang lain.
6.      Informal – Konseling, yaitu bentuk konseling yang dilakukan di tempat yang tidak formal seperti kantor tetapi dilakukan di ruang tunggu, di rumah, ruang pertemuan atau bahkan di jalan.
7.      Preventive – Konseling, yaitu bentuk konseling yang memberikan gambaran-gambaran problema yang mungkin akan timbul selanjutnya bagi si konsele sehingga si konsele dapat mengatasinya sedini mungkin.  

Sebenarnya di dalam bentuk-bentuk pelayanan yang akan dilakukan di dalam proses pembimbingan jemaat yang akan menikah, para pembimbing juga harus memperhatikan dengan apa yang disebut Fase-Fase Percakapan dalam Konseling[6]

1.      Fase Introduction – Understanding (Pendahuluan)
Pada permulaan konseling, paling tidak ada tiga tujuan yang harus dicapai, yaitu bertemu dengan konsele, membangun hubungan baik, dan menjelaskan persoalan yang dihadapi.
2.      Fase Goal – Setting  (Penetapan Goal)
Konselor menganjurkan konsele untuk membuat daftar hal-hal yang spesifik yang dapat mereka lakukan.  Tetapkan kapan dan bagaimana tujuan-tujuan itu akan dicapai.  Mintalah kepada Tuhan untuk menolong konsele mengerjakan apa yang harus dia capai dalam setiap konseling session.
3.      Fase Solution – Activity (Mengerjakan penyelesaian)
Dalam hal ini konselor dan konsele tidak hanya membicarakan problema dan kemungkinan untuk mengatasinya, tetapi juga mencoba setiap kemungkinan.  Jika memang tidak berhasil, konselor harus melihat pada persoalannya kembali, mendiskusikan, mengevaluasi cara-cara yang lalu dan dicoba lagi.
4.      Fase Termination – Launching (Terminasi Akhir)
Sebenarnya tujuan dari konseling adalah supaya konsele mampu mengatasi masalahnya sendiri.  Oleh karena itu, fase terakhir dari konseling adalah titik dimana konsele dituntun pada suatu fase kehidupan yang baru untuk mengatasi setiap problemanya sendiri dalam kehidupannya bersama Tuhan.

            Cara pendekatan komunikasi antara pembimbing dan  yang dibimbing:

1.      Pembimbing biasanya dipandang sebagai seorang ahli yang dapat menganalisa persoalan, mengerti akan pemecahannya dan mampu mengkomunikasikan jalan keluar tersebut kepada konsele.  Jadi, konsele hanya datang untuk menerima petunjuk apa yang harus dilakukannya. Tentu saja ini berarti, bahwa tanggung jawab dan beban terbesar terletak pada bahu konselor.[7]
2.      Jika dalam proses pembinaan terjadi atau terdapat sebuah masalah di dalam kedua pasangan yang akan menikah maka mereka diberi kesempatan untuk mengatasi persolannya sendiri, yaitu dengan memberi kebebasan pada mereka untuk menggumulinya.  Pembimbing tidak memberikan diagnosis, menganjurkan jalan keluar, atau memberikan terapi, tetapi ia lebih banyak mendengar, kadang-kadang menyimpulkan apa yang sudah didengar dan memberikan suasana konseling yang hangat, sehingga masing-masing calon mempelai bebas mengeluarkan isi hatinya, menyatakan perasaannya, dan tanpa disadari akhirnya ia menemukan jawab atas persoalannya.[8]
3.      Adakalanya Pembimbing, kedua mempelai dan kedua belah pihak keluarga sama-sama mendiskusikan persoalan, dalam hubungan mereka yang equal, sehingga keduanya dapat mengambil keputusan bagaimana sebaiknya persoalan tersebut diatasi.
 Ketiga metode/pendekatan ini biasanya mencerminkan kepribadian atau kebudayaan suatu bangsa.  Dalam masyarakat yang sangat menghormati orang yang lebih tua, ataupun pemimpin-pemimpin mereka, biasanya konseling lebih cenderung memilih pendekatan pertama.  Sedang dalam masyarakat yang lebih demokratis, pendekatan yang kedua dan ketigalah yang lebih sering kita jumpai.
Mana yang lebih praktis, dan lebih meyakinkan? Tentu saja bergantung kepada persoalannya, kepada apa yang diharapkan konsele maupun kepada pribadi konselor sendiri.  Dalam pelayanan Tuhan Yesus selama di dunia, kadangkala Ia memakai cara pertama dan sangat autoritative dalam menghadapi para imam besar dan orang-orang Parisi. Tetapi, Ia menegur dengan lebih lunak ketika bersama dengan dua orang dalam perjalana menuju Emaus setelah kebangkitanNya.  Demikian juga dalam percakapaNya dengan Nikodemus, Ia menggunakan pendekatan yang lebih dari hati ke hati, dan  kepada perempuan yang sakit (yang memegang jubahNya) Tuhan menghardik dengan lembut.  Sedangkan kepada anak-anak, Ia memeluk dan membawa mereka dekat kepadaNya; dan dengan tiap-tiap muridNya Ia memberikan pendekatan yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA


Allender, Dan B. Hati Yang Luka.  Jakarta: Gunung Mulia, 2001.
Barney, Kenneth. Rumah Tangga Kristen. Malang: Gandum Mas, 1977
Channing, Nathanael. Diktat Teologi Pastoral I.  Malang: SAAT, 1994.
Collins, Garry R. Konseling Kristen Yang Efektif.  Malang: SAAT, 2002.
Dobson, James C. Love for a Lifetime.  Waco: Word,1983.
Dugherty, Billy Joe. Buiding Stronger Marriages and Families. Tulsa: Harrison, 1991
Gunadi, Paul.  Bahan Kuliah Konseling Pranikah.  Malang: SAAT
Hamilton, Victor P.  The New International Commentary on The Old Testament-The Book of Genesis 1-17.  Grand Rapids: William B. Eerdmans, 1991.
Hybels, Bill, et. al.  Dipertemukan Untuk Dipersatukan.  Jakarta: Harvest, 2002.
Jackson, Dave, et. al.  .Memulai dan Membangun Keluarga Bersama.  Malang: SAAT, 2000.
Lederer, William J., et. al.  The Mirages of Marriage. New York: W. W. Norton, 1968.
Mace, David, et. al.  Three Essential For a Successful Marriage. USA: Victor, 1988.
Meyer, Joyce.  Perhiasan Kepala Ganti Abu. Jakarta: Metanoia, 2001.
Scheunemann, D.  Romantika Kehidupan Suami Istri.  Malang: Gandum Mas, 1989.
 Small, Dwight Hervey, “Marriage as Mutual Servanthood,” Husbands and Wives.  USA: Victor, 1988.
Soesilo, Vivian A.  Bimbingan Pranikah.  Malang: SAAT, 1998.
Susabda, Yakub B.  Pastoral Konseling I.  Malang: Gandum Mas, 1996.
Tillman, William M., Jr., et. al.  The Bible and Family Relations.  Nashville: Broadman, 1983.
Trisna, Jonathan A.  Pernikahan Kristen Suatu Usaha Dalam Kristus.  Jakarta: ITKI, 2000.
Worthington, Everett L.  Counseling Before Marriage.  USA: Word, 1990.
Wright, H. Norman.  So You’re Getting Married.  Yogyakarta: Gloria, 1998.


[1] H. Norman Wright, So You’re Getting Married (Yogyakarta: Gloria, 2000) 9-10.
[2] Gary R. Collins, Konseling Kristen Yang Efektif (Malang: SAAT, 2002) 102.
[3] Ibid, 103.
[4] Ibid, 104-110.
[5] Bdk. dengan Nathanael Channing, Diktat Kuliah Teologi Pastoral I  (Malang: SAAT, 1994) 75.
[6] Collins, Konseling 44-50.
[7] Garry R. Collins, dalam bukunya Konseling Kristen Yang Efektif, mengatakan bahwa dalam bidang konseling metode pendekatan ini disebut dengan Directive – approaches. [Ibid, 8-10]
[8] Dalam bidang konseling metode pendekatan ini disebut dengan Permissive – approaches. [ Lih. Ibid]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; kota benteng kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah.