"Masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang"

Sabtu, 16 April 2011

Kesembuhan Luka-luka Batin melalui Pengampunan (Bachtiar S)

Bachtiar Sihombing

KESEMBUHAN LUKA-LUKA BATIN
MELALUI PENGAMPUNAN
 (Penulis: Bachtiar Sihombing)
 


Hal pengampunan ini penting disadari oleh orang Kristen, karena dunia sekuler menganggap pengampunan sebagai hal yang tidak penting, contohnya dalam buku yang berjudul The Courage to Heal, buku yang terkenal di dunia sekuler:
 “Jangan mengatakan bahwa klien itu harus mengampuni pelaku pelecehan.  Pengampunan itu tidak perlu untuk penyembuhan.  Kenyataan itu mengganggu banyak pembimbing, pendeta, dan masyarakat umum.  Tetapi hal itu mutlak benar.  Apabila anda memegang kepercayaan bahwa korban-korban harus mengampuni pelaku dalam rangka kesembuhan, anda tidak boleh bekerja dengan korban-korban tersebut.”[160]

Pernyataan di atas merupakan penolakan akan arti penting dari pengampunan.  Tapi, orang Kristen sendiri kurang terdapat pemahaman mengenai proses pengampunan ini.  Lynn Heitritter dan Jeanette Vough berpendapat:
Kesalahpahaman dalam proses pengampunan dapat berakibat pada penawaran jalan keluar yang cenderung terlalu menyederhanakan masalah-masalah yang sangat sulit.  Proses pengampunan sama sekali tidak sederhana!  Bahkan secara teologis, pengampunan bukan suatu perasaan, tapi melibatkan suatu tindakan dari kemauan.  Memutuskan untuk mengampuni dan  berkata “Saya mengampuni Anda” jauh lebih sukar dari yang dibayangkan.[161]

Benner mengatakan bahwa kemampuan untuk mengampuni adalah suatu karunia bahkan suatu keajaiban.  Dalam hal ini bukan berarti korban tidak perlu ada usaha untuk dapat memberikan pengampunan, namun usaha tersebut baru dapat korban lakukan apabila korban mengerti bahwa korban telah terlebih dahulu menerima pengampunan dari Allah.  Di sini terlihat adanya dua bagian yang menyatu, yaitu korban berusaha untuk memberikan pengampunan dan ketika korban dapat melepaskan kemarahan dan menyembuhkan luka yang korban derita melalui pengampunan maka ini merupakan suatu karunia.  Dengan kata lain, korban melakukan bagian korban untuk berusaha memberikan pengampunan dan Allah mengambil bagian dengan menolong korban agar dapat melepaskan kemarahan, memberikan pengampunan yang sempurna, terbebas dan mengalami kesembuhan dari luka emosional yang diderita.

Pengampunan Tuhan Sebagai Dasar dalam Mengampuni Tuhan

Ketika orang yang dikasihi meninggal atau mengalami kejadian-kejadian yang buruk dan kita melihat Tuhan sepertinya diam terhadap segala hal yang terjadi di dunia.  Mungkin kita akan bertanya, “Mengapa Tuhan mengizinkan hal ini terjadi?” “Di manakah Tuhan pada saat saya mengalami penderitaan?” [162]  Suara-suara hati inilah yang membuat banyak orang yang bergumul sedemikian rupa dengan kepahitan dan menyalahkan Allah karena mengizinkan peristiwa yang melukai batin itu terjadi.  Rasa sakit dapat terus bertambah dengan berlalunya waktu dan sering memuncak dalam kemarahan yang kuat (rage) terhadap Allah.
Benarkah Tuhan yang salah sehingga kita harus mengampuninya?  Bukankah pemahaman kita yang salah?  Tuhan berfirman dalam Yeremia 29:11, “Sebab Aku mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”  Kemudian Roma 8:28 berkata “Kita tahu sekarang, bahwa Alah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Berdasarkan firman Tuhan di atas maka kita seharusnya beriman dan memiliki pemahaman bahwa Tuhanlah yang mengatur segala sesuatu yang terjadi, baik itu duka dan suka cita merupakan adalah untuk kebaikan kita dan Tuhan tidak pernah meninggalkan kita dalam menghadapi setiap permasalahan.  Lockerbie mengatakan bahwa “mengampuni Tuhan” adalah kerelaan kita untuk menerima segala sesuatu yang diizinkan-Nya terjadi di dalam kehidupan kita.[163]  Pemahaman inilah yang memampukan kita untuk mengampuni Tuhan. 

Pengampunan Tuhan Sebagai Dasar untuk Mengampuni Diri Sendiri

 
Sering kali seseorang masih dibayang-bayangi oleh kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalu.  Ingatan yang ada menjadi kesaksian baginya atas apa yang dilakukannya.  Ingatan inilah yang membuat seseorang terluka dan terus menerus di dalam penderitaan.  Rasa sakit hati yang kita timbulkan pada orang lain menjadi rasa bersalah dan kebencian yang kita rasakan terhadap diri sendiri.  Kita tidak dapat mengampuni diri kita sendiri.  Kita menjadikan diri kita sendiri hakim yang paling kejam yang tidak berperasaan.  Oleh karena itu, tidak berlebihan jika Charles F. Stanley mengatakan bahwa langkah yang penting menuju kebebasan yang benar adalah kita belajar untuk mengampuni diri sendiri.[164]  Smedes juga berkata bahwa mengampuni diri sendiri memerlukan keberanian besar; dan keberanian ini dapat kita lakukan karena kita mengasihi diri kita sendiri.[165]  Dengan kekuatan kasih, kita dapat membebaskan diri kita dari kutukan diri sendiri. 
Bagi banyak orang, rasa bersalah sama sekali tidak dapat dipecahkan dengan maaf dari orang lain, atau dengan saran dari luar apapun.  Bagi mereka, kedamaian pikiran hanya bisa dicapai ketika mampu memaafkan diri sendiri.[166]  Oleh karena itu, di satu sisi kita perlu dengan jujur mengakui segala perbuatan masa lalu kita.  Namun, di sisi lain kita perlu menyadari bahwa hal itu tidak relevan lagi dengan kehidupan sekarang.  Kejujuran terhadap perasaan hati akan menolong kita melepaskan kesesakan dalam hati selama ini.  Kita menyadari bahwa kita pernah melakukan kesalahan tetapi kita juga telah meminta pengampunan dari Tuhan sehingga kita yakin bahwa Tuhan mengampuni kita. 

Pengampunan Tuhan Dasar untuk Mengampuni Orang lain

            Prinsip dalam pengampunan “Jika hutang dosa manusia yang begitu besar dibebaskan Allah melalui kematian Yesus Kristus di kayu salib, masakan manusia tidak mau mengampuni kesalahan sesamanya.”  Prinsip yang sangat penting untuk disadari oleh setiap orang percaya sebagaimana dinyatakan juga dalam friman Tuhan, “Jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.  Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat. 6:14-15).  Pengampunan dari Allah harus diresponi dengan mengampuni orang lain.
Pengampunan dari Allah dan pengampunan terhadap orang lain akan mengakhiri tuntutan terhadap keadaan sulit, masalah kegagalan, kekecewaan, perkiraan akan terjadinya kegagalan pada masa depan dan membuka diri terhadap hal-hal akan datang, serta modal untuk dapat hidup secara bersama-sama dengan baik.  Seperti yang dikatakan Jerry Cook dan Stanley C. Baldwin:
Jika korban bersikap mau mengampuni maka korban telah membiarkan teman-teman korban menyatakan dirinya sebagaimana adanya; korban memberikan mereka rasa aman karena mengetahui bahwa mereka dapat menyatakan diri sebagaimana adanya.[167]

            Ada beberapa hal yang sering kali dipakai menjadi alasan yang membuat seseorang sulit untuk mengampuni orang lain, yaitu:
1.   Mengampuni Orang yang sulit untuk diampuni
Fakta menyatakan bahwa ada banyak orang yang mengalami kesulitan besar ketika harus mengampuni orang yang telah menipu, memperkosa, menyiksa, membakar harta benda, membunuh atau seperti yang dialami oleh para korban Nazi.  Fakta juga menyatakan bahwa ada banyak alasan secara logika yang dapat dunia ini berikan untuk mendukung supaya tidak mengampuni si pelaku.[168]  
2.   Mengampuni Orang yang Tidak Kelihatan
Adakalanya korban hendak mengampuni orang yang melukai batinnya tetapi si pelaku sudah tidak ada lagi, mungkin saja sudah pergi jauh, meninggal atau karena korban kurang mengingat siapa dia.  Di satu sisi, si korban hendak mendiamkan saja tetapi di sisi lain korban merasakan penderitaan terus-menerus karena rasa benci.  Dalam hal ini, korban dapat mengakuinya kepada Tuhan atau kepada seorang konselor.  Korban perlu mengakui akan segala pengalaman pahit yang membuat kebencian di hati korban.  Walaupun harus membongkar masa lalu, namun proses inilah yang perlu korban alami kembali supaya korban mampu mengampuni mereka. 
3.   Mengampuni Orang yang Tidak Peduli
Adakalanya si pelaku tidak peduli kesalahan yang telah diperbuatnya kepada orang lain, bahkan ada yang malah terus menerus melukai.  Oleh karena perlakuan seperti ini maka korban merasa sakit hati yang mendalam dan tidak bisa dilupakan begitu saja sebagai kesalahan kecil. 
Kalau salah satu pihak tidak mau menerima pengampunan maka pengampunan tidak efektif di dalam relasi.  Dalam keadaan seperti ini peran dari pemberi ampun menempati posisi utama dari adanya pengampunan.[169]  Korban harus sadar bahwa ia tidak dapat memaksa pelaku untuk menyesali perbuatannya.  Oleh karena itu, ketika korban mau mengampuni maka hal ini bertujuan untuk diri korban sendiri, yaitu korban taat akan perintah Tuhan dan tidak terbenam dalam kesedihan korban sendiri.[170]  Korban perlu meminta agar Tuhan memberikan belas kasihan kepada pelaku tersebut sebab mungkin juga pelaku merupakan salah satu korban.
Memang alasan-alasan di atas sangat kuat tetapi kembali diingatkan akan dua prinsip pengampunan.  Pertama, “Jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat. 6:14-15).  Kedua, “Jika hutang dosa manusia yang begitu besar dibebaskan oleh Allah melalui kematian Yesus Kristus di kayu salib, masakan manusia tidak mau mengampuni kesalahan sesamanya?”

Pengampunan Merupakan Pelaksanaan Kebenaran, Bukan Soal Menang atau Kalah 

Adakalanya ketika korban menjadi pihak yang memberi ampun maka korban akan merasa sebagai orang yang lebih di atas atau pemenang.  Pengampunan yang benar bukanlah seperti yang demikian.  Pengampunan menolak adanya superioritas ataupun inferioritas.  Pengampunan terjadi pada kondisi di mana masing-masing pihak adalah sejajar; sama berharganya.  Ketika kasih karunia Allah yang menjadi pendorong seseorang melakukan pengampunan maka hal itu bukanlah persoalan mengenai posisi yang menang atau kalah, inferior atau merasa suatu kewajiban untuk mengampuni.  Hal lain yang tidak boleh terjadi adalah korban mengharuskan pelaku untuk berkorban baginya dan mempunyai kewajiban untuk mengampuni dia. 

Pengampunan Merupakan Kewajiban Pribadi, Bukan Harus Dua Arah.

Sering kali korban berpikir bahwa ketika dia mengampuni maka orang yang diampuni harus mengampui dirinya.  Akan tetapi, adakalanya hal ini terjadi melainkan si pelaku malah merasa tidak senang atau tidak mau untuk mengampuni.  Dalam hal ini, si korban tidak harus menekankan atau memaksakan orang lain untuk mengampuni juga.  Langkah yang benar adalah melihat bahwa si korban sudah melaksanakan kewajibannya untuk mengampuni.    
Ketika masing-masing sadar dan mau menerapkan konsep kasih di dalam keseluruhan tindakan pengampunan maka pengampunan dapat juga terjadi satu arah.  Ketika orang yang mengalami luka emosional ataupun pengkhianatan mau menerapkan kasih maka ia akan langsung mengampuni si pelaku tanpa memperhatikan kerugian atau luka yang telah korban terima.  Demikian juga dengan si pelaku, ketika menyadari bahwa dirinya bersalah maka konsekuensi kasih adalah kemauan untuk datang mengakui kesalahan dan minta pengampunan terhadap si korban dan juga terhadap Tuhan.  Hal inilah yang mampu membuat terjadinya pengampunan dua arah.

Pengampunan Merupakan Kejujuran, Bukan Melupakan atau Menyangkali

Adakalanya orang Kristen diajarkan untuk “mengampuni dan melupakan” supaya betul-betul tidak lagi merasakan kepahitan masa lalu.  Allender dan Layantara menyatakan bahwa ada dua dasar dari prinsip “mengampuni dan melupakan.”[171]  Pertama, dasar pemikiran yang sering dipakai adalah “Yang lalu biarlah berlalu dan kini korban adalah ciptaan baru dalam Kristus.  Jadi janganlah kuatir akan apa yang tak dapat Anda ubah.”  Kedua, Allah dikatakan telah melupakan dosa-dosa manusia (Yer. 31:34) karena Allah telah menjauhkan pelanggaran-pelanggaran korban sejauh Timur dari Barat (Mzm. 103:12).  Sebenarnya kedua dasar pemikiran tersebut harus merupakan dua kebenaran yang penting tetapi harus dipahami berdasarkan konteks dan kesejajaran dengan kitab lainnya, yaitu orang-orang percaya masih mengalami proses pengudusan sehingga penderitaan dan suka cita dihadapi silih berganti sampai masuk surga mulia (Yak. 5:7-11; 1Pet. 2:18-25).
Konsep “mengampuni dan melupakan” dapat bermanfaat untuk sementara dalam menghadapi kenyataan pahit.  Namun, setelah beberapa saat, rasa sakit akibat masa lalu menuntut penyelesaian.  Akibatnya, timbul rasa dihianati oleh mereka yang ingin membekukan peristiwa pelecehan, yang sebetulnya sama seperti keinginan pelaku agar korban diam.  Oleh karena itu, menyembunyikan masa lalu selalu berakibat penolakan; penolakan terhadap masa lalu selalu berakibat penolakan terhadap Allah.  Melupakan kisah pribadi sama artinya dengan melupakan diri sendiri dan panggilan Allah.[172]
Mengampuni bukan berarti menghilangkan ingatan akan luka atau si pelaku luka itu.[173]  Jay E. Adams mengatakan bahwa “forgiveness is not a shock treatment that instantly wipes out memory of the recent past”[174]  Ingatan itu dapat saja muncul kembali sehingga yang harus terjadi adalah semakin lama luka-luka batin itu semakin berkurang.  Korban bisa saja mengingat luka itu dengan segera tetapi korban dapat pula memutuskan untuk menganggapnya sudah diselesaikan dan tidak usah untuk dipikirkan kembali.  Korban mengingatnya tetapi tanpa ada luka emosional.  Dengan dapat menguasai ingatan menjadi suatu tanda bahwa pengampunan telah terjadi dan kesembuhan luka batin telah terjadi. 

Pengampunan adalah Mengakui Kesalahan, Bukan Menyetujui Kesalahan

Sebenarnya banyak alasan mengapa si pelaku dapat melukai hati kita, dan kadang-kadang alasan yang diberikan masuk akal, namun harus diakui pula bahwa kesalahan tidak dapat dimaklumi.  Apabila korban setuju dan memaklumi perbuatan orang tersebut berarti korban telah merasionalisasi dosa dalam pikiran korban.  Dengan kata lain, korban telah kompromi dengan dosa. 
Di satu sisi, korban perlu memahami alasan perbuatan mereka, dapat menolong korban untuk mengenal mereka.  Pengenalan korban terhadap mereka akan membantu korban melihat perbedaan antara apa yang dilakukan dan siapa orang itu.  Meskipun ia melakukan kesalahan, masih banyak hal positif yang dilakukannya ketimbang satu perbuatan yang buruk.  Akan tetapi di sisi lain, korban perlu melihat bahwa walaupun tindakan dapat dipahami dan tidak dapat dimaklumi tetapi korban mau mengampuni orang tersebut.  Dalam hal inilah pengampunan disebut sebagai satu-satunya respons dari ketidakadilan seperti ini.  Luka hanya dapat disembuhkan melalui pengampunan.  Mencoba untuk memaklumi perbuatan mereka akan menghalangi pengampunan yang sempurna. 

Pengampunan: Membuat Keadilan Menjadi Nyata

Sering kali orang yang terluka akan merasa bahwa membenci merupakan kekuatan yang dapat ditunjukkan kepada si pelaku.  Dengan kebencian ini, seseorang akan merasa menang karena si pelaku merasa tidak mendapatkan damai sejahtera atas kesalahan yang telah diperbuatnya.  Akhirnya tindakan membenci dan balas dendam dianggap sebagai keadilan yang seharusnya ada, yaitu dia pun (pelaku) harus merasakan luka seperti yang korban alami.  Dalam hal ini Smedes:
“Kebencian memang memberikan energi seketika, tetapi energi itu menjadi kering setelah penderitaan berhenti.  Kebencian bisa membuat korban jalan terus sementara korban merasa dihancurkan, tetapi dorongan itu mati sementara waktu berjalan terus setelah ujian berakhir.  Dan kemudian kebencian mengalihkan kekuatannya untuk melawan si pembenci.  Kebencian menyerap kekuatan jiwa, membuatnya lebih lemah daripada sebelumnya, terlalu lemah untuk membina kehidupan yang lebih baik setelah melalui rasa sakit hati.”[175]

Pengampunan bukanlah suatu pilihan alternatif di dalam balas dendam.  Pengampunan merupakan keadilan terhadap diri sendiri dan orang lain karena keinginan membalas dendam akan membuat rasa sakit hati lebih dari sebelumnya.  Pengampunan merupakan risiko yang lebih baik, yaitu tidak perlu untuk merasakan luka dan keinginan untuk membalas dendam yang membawa pada kehancuran diri sendiri. 

Pengampunan: Merupakan Kekuatan Bukan Kelemahan

Di dalam pemberian pengampunan terdapat tiga kekuatan di dalamnya.  Pertama, kekuatan untuk mengakui realita.  Untuk bisa mengampuni maka korban harus mempunyai keberanian untuk melihat dengan tegar kepada kesalahan, keburukan dan segi kejahatan dari apa yang dilakukan seseorang kepada korban.[176]  Ini berarti korban menjadi seorang yang realistis.  Namun demikian banyak orang yang tidak dapat mengampuni karena mereka takut kepada realita yang ada.  Mereka telah menipu diri mereka sendiri.  Memang menipu diri sendiri lebih mudah daripada mengampuni namun hal itu tidak memberikan manfaat dalam penyembuhan. 
Kedua, kekuatan untuk berkonfrontasi.  Sering kali orang merasa bahwa memperbaiki relasi dengan berkonfrontasi adalah salah.  Bagaimana mungkin orang dapat mengampuni dan minta ampun kalau tidak tahu kesalahan yang terjadi?  Konfrontasi sangat diperlukan dalam proses pengampunan dan rekonsiliasi.[177]  Smedes menyatakan bahwa kekuatan pengampunan bisa dilihat paling jelas setiap kali hal itu dilahirkan dari konfrontasi.[178]  Konfrontasi membuat korban dan pelaku dapat saling memberi tahu apa yang menjadi masalah masing-masing.  Konfrontasi membuat masing-masing dapat menghindar agar tidak mengulangi kesalahannya kembali.[179]  Ketiga, kekuatan untuk memiliki kebebasan.  Tidak ada seorang pun yang bisa memaksa korban untuk mengampuni. 
Setelah memahami kebenaran akan pengampunan maka langkah selanjutnya yang perlu dimengerti adalah implikasi rekonsiliasi, yaitu pendamaian dan pemulihan yang Tuhan kerjakan dalam kehidupan orang percaya yang mengalami luka-luka batin.


[160]Ellen Bass & Laura Davis, The Courage to Heal (New York: Harper & Row, 1988) 348.
[161]Lynn Heitritter dan Jeanette Vough, Helping Victim of Sexual Abuse (Minnesota: Bethany, 1989) 203.
[162]Heitritter dan Vough, Helping Victim 219.
[163]Lockerbie, Forgive 31.
[164]Charles F. Stanley, Dibebaskan Melalui Pengampunan (Jakarta: Yaski, 1998) 6.
[165]Smedes, Mengampuni 105.
[166]Johan Christoph Arnold,  Why Forgive  (terj. Frans Kowa; Jakarta: Grasindo, 2002) 138.
[167]Jerry Cook and Stanley C. Baldwin, Love, Acceptance and Forgiveness (Ventura: Regal, 1982) 90.
[168]Lih. Arnold,  Why Forgive 46-60.
[169]Lundeen, “Forgiveness” 179.
[170]Jeanette Lockerbie, Forgive, Forget and Be Free (San Bernardino: Here’s Life, 1981) 26.
[171]Layantara, Luka Batin 70-71.
[172]Seorang wanita korban pelecehan pernah disarankan oleh pendetanya agar melupakan apa yang telah terjadi, karena banyak orang lain yang mengalami hal-hal yang lebih buruk dibanding pelecehan oleh ayah sendiri.  Nasihat ini melarang korban merenungkan akibat-akibat pelecehan itu, karena perenungan itu dianggap egois dan tidak perlu (Allender, Hati yang Luka 15).
[173]Robert D. Enright and Robert L. Zell, “Problems Encountered When We Fogive One Another,” Journal of Psychology and Christianity 80/1 (1989) 54.
[174]Jay E. Adams, The Christian Counselor’s Manual (Grand Rapids: Baker, 1973) 64-65.  
[175]Smedes, Mengampuni 208.
[176]Lewis B. Smedes, The Art of Forgiving (England: Summit 1996) 73-75.
[177]Glenn Veenstra, “Psychological Concepts of Forgiveness,” Journal of Psychology & Christianity  11/2 (Summer 1992) 161.
[178]Smedes, Mengampuni 212
[179]Tim Jackson, When Forgiveness Seems Impossible (Grand Rapids: RBS, 1994) 8.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; kota benteng kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah.