"Masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang"

Jumat, 15 April 2011

SUMBER LUKA-LUKA BATIN; 3. PELECEHAN SEKSUAL

Bachtiar Sihombing

SUMBER LUKA-LUKA BATIN:

PELECEHAN SEKSUAL


(Penulis: Bachtiar Sihombing, MACE)



Pelecehan seksual adalah kontak atau interaksi (visual, verbal, atau psikologis) dengan menggunakan kekuatan seksual terhadap orang lain sehingga mengakibatkan terjadinya rangsangan seksual atau luka-luka seksual.[18]  Penganiayaan seksual merupakan salah satu contoh yang paling mencolok dalam menyeberangi batas-batas atau norma.  Pelecehan seksual terjadi karena tidak adanya kesadaran bahwa fungsi seksual diberikan untuk dipergunakan dengan bebas kepada suami atau istri yang sah. 

Penyebab Pelecehan Seksual 
1.  Kontak seksual. 
Kontak seksual mencakup segala jenis sentuhan fisik yang dilakukan untuk merangsang dorongan seksual (secara fisik atau psikologis) dalam diri korban, baik berdasarkan paksaan maupun ajakan.[19]  Pelecehan seksual melalui fisik dapat terjadi melalui hubungan seks, masturbasi di depan orang lain, memanjakan dada dan alat kelamin, membuka tubuh kepada orang lain.
                  Tingkatan kategori ini termasuk:[20]
i) Tingkat sangat parah: persetubuhan; hubungan seksual secara oral atau anal.
ii) Tingkat parah: Kontak alat kelamin, termasuk sentuhan tangan atau penetrasi terhadap alat kelamin atau dada dan apa saja yang menirukan hubungan seksual.
iii) Tingkat tidak parah: Ciuman seksual; pada bibir, dada, paha, paha, kaki, atau alat kelamin secara tidak langsung (berpakaian).
2.  Interaksi Seksual. 
Jenis pelecehan seksual yang berkategori interaksi seksual ini jauh lebih sulit dikenali karena tidak melibatkan sentuhan fisik, sehingga tampaknya tidak begitu parah.  Interaksi seksual ini dapat terjadi dalam tiga bentuk, yaitu:[21]
i)  Verbal: Pelecehan seksual dapat terjadi melalui kata-kata, misalnya: permintaan atau sindiran tentang seks, rayuan, penggambaran praktek-praktek seks, kata-kata yang cabul atau kotor. 
ii) Visual: Pelecehan seksual melalui penglihatan/visual dapat terjadi melalui ingatan akan hal-hal atau gambar-gambar porno, memperlihatkan tindakan-tindakan seksual, perhatian tidak senonoh yang ditujukan ke tubuh atau pakaian dengan tujuan rangsangan seksual, dan menunjukkan kecantikan atau kecakapannya.
iii) Psikologis: Secara psikologis interaksi seksual terbagi atas: Pelanggaran batas seksual: perhatian berlebihan tentang masalah menstruasi, pakaian, perkembangan pubertas; Pelanggaran batas relasi: perhatian berlebihan tentang kegiatan seks anak, menggunakan anak sebagai pengganti pasangan (istri/suami, teman intim).
3.  Pelecehan seksual berdasarkan kepercayaan [22] 
Pelecehen seksual dapat terjadi bukan karena perlakuan dari orang lain, tetapi adakalanya pelecehan seksual juga terjadi karena ajaran (atau kepercayaan yang keras) ajaran tentang seks yang salah.  Ada ajaran-ajaran tertentu yang mengajarkan bahwa seks adalah dosa, sehingga orang-orang tersebut akan merasa bersalah mengenai perasaan-perasaan seksual mereka dan akhirnya berusaha memungkiri bagian tubuh seksual mereka.
Dampak Pelecehan Seksual
a.   Dampak pelecehan seksual terhadap emosi[23]
Ketika korban pelecehan merasa tidak berdaya, maka gambaran tentang dirinya sangat tidak memadai.  Dia mempertanyakan secara mendalam ihwal kemampuan, kecakapan, dan kecerdasannya.  Hal inilah yang dapat membuat seseorang dapat memiliki rasa malu, merasa bersalah, merasa jijik dan benci terhadap diri sendiri/pelaku/orang lain.  Adakalanya si korban akan mengambil sikap mendiamkan pelecehan itu karena si korban sedang dalam keadaan bingung atau ambivalensi[24].  Para korban pelecehan sering menangani kebingungan jiwanya dengan menenggelamkan luka mereka kepada kecanduan obat terlarang, kecanduan seks dan minuman keras.
b.  Dampak pelecehan seksual terhadap fisik
Dampak fisik yang langsung terlihat jelas dari korban pelecehan seksual adalah rusaknya alat kelamin dan keterjangkitan penyakit-penyakit kelamin[25].  Sedangkan dampak yang dapat terlihat jelas oleh orang lain terhadap seorang wanita adalah kehamilan.  Seseorang yang pernah mengalami incest,[26] akan mengalami disfungsi seks dan kadangkala memiliki perilaku yang tidak wajar serta cenderung untuk terlibat prostitusi. 
c.  Dampak pelecehan seksual terhadap spiritual[27]
Orang yang mengalami pelecehan seksual dapat mengalami distorsi akan kasih, anugerah dan gambar Allah.  Dampak ini terlihat jelas ketika korban tidak dapat memahami dua hal, yaitu: di satu sisi ada realita dari Allah yang mengasihi dan sebagai tempat perlindungan bagi orang lemah.  Namun, di sisi lain ada realita penganiayaan seks.  Hal inilah yang sering kali membuat iman seseorang goyah sehingga mempertanyakan “Kalau Allah ada mengapa terjadi penganiayaan seksual?”
d.  Dampak pelecehan seksual terhadap hubungan[28]
Pertama, korban akan merasa dirinya kotor, malu, takut dan bingung dalam berelasi.  Kedua, korban yang masih sekolah akan dikeluarkan dari sekolah.  Ketiga, mengalami perasaan terintimidasi, dimarahi oleh keluarga, rendah diri, kebebasannya drastis terbatasi atau diabaikan.  Keempat, hilangnya identitas sebagai anak yang masih suci/tidak rusak alat kelaminnya.  Kelima, adanya gaya bergaul yang “khas” yaitu terjebak dengan prostitusi atau kecanduan seks. Keenam, seseorang dapat menggunakan tubuh pasangan untuk kepuasannya sendiri tanpa peduli dengan perasaan dan penghormatan hak pasangan untuk mendapatkan kebutuhan seksualnya.
Berdasarkan pembahasan di atas maka pelecehan seksual sangat mudah terjadi terhadap siapa saja sebab sumber penyebab dari terjadinya pelecehan seksual adalah kontak seksual secara fisik, interaksi psikologis, dan kepercayaan.  Sedangkan dampak dari pelecehan seksual itu adalah perasaan tidak berdaya, harga diri yang rusak, ambivalensi, rusaknya alat kelamin, keterjangkitan penyakit kelamin, kehamilan, dan terjadinya distorsi cara pandang seseorang terhadap Allah.
Setelah membahas pelecehan emosi, pelecehan fisik dan pelecehan seksual maka pemabahasan selanjutnya adalah mengenai sumber keempat dari penyebab terjadinya luka-luka batin, yaitu pelecehan spiritual.



[18]Lih. Allender, Hati yang Luka 33 dan Blue, Healing Spiritual 12.
[19]Lih. Diane Mandt Langberg, Counseling Survivors of Sexual Abuse (Wheaton: Tyndale, 1997) 61-62.
[20]Allender, Hati yang Luka 33-37.
[21]Lih. Langberg, Counseling Survivors 61-62; dan Allender, Hati yang Luka 37.
[22]Lih. Cloud, Changes that Heal 146.
[23]Lih. Annie Imbens and Ineke Jonker, Christianity and Incest (terj. Patricia Mcway; Minneapolis: Fortress, 1992) 132-138.
[24]Ambivalensi adalah kondisi perasaan yang ada diantara dua macam emosi yang bertentangan pada saat yang sama, misalkan pengalaman rangsangan seksual yang dapat membawa kenikmatan, namun sekaligus penderitaan karena pengalaman masa lalu itu membuatnya trauma (Langberg, Counseling Survivors 70-71).
[25]Penyakit kelamin dapat terjadi karena si pelaku atau korban adalah orang yang sudah menderita penyakit kelamin atau bertukar-tukar pasangan (Langberg, Counseling Survivors 73; Imbens and Jonker, Christianity and Incest  154-159).
[26]Incest adalah hubungan seksual yang dilakukan antara orang-orang yang memiliki hubungan darah sangat dekat sehingga secara hukum, mereka dilarang menikah (Mirriem Webster, Webster’s Ninth New Collegiate Dictionary [Springfield: Mirriem-Webster, 1986] 609).
[27]Lih. Imbens and Jonker, Christianity and Incest 160-167.
[28]Lih. Allender, Hati yang Luka 144-154; dan Langberg, Counseling Survivors 73
[29]The Subtle Power of Spiritual Abuse (Minneapolis: Bethany, 1991) 20.
[30]Ronal Enroth, Churches that Abuse (Grand Rapids: Zondervan, 1992) 29.
[31]Philip Yancey, Disapointment with God (terj. Paul A. Rajoe; Surabaya: Yakin, t.t.) 15; Juanita dan Dale Ryan, Pemulihan dari Pelecehan Rohani (Malang: SAAT, 1999) 9. 
[32]Lih. Johnson and VanVonderen, The Subtle Power 20; Enroth, Churches 29; bdk. Blue, Healing Spiritual Abuse 12
[33]Lih. Philip Schaff, History of The Christian Church Volume (Grand Rapids: Eerdmans, 1910) 7.150; H.Berkhof dan I.H.Enklaar, Sejarah Gereja (Jakarta: Gunung Mulia, 2001) 127.
[34]Dalam sejarah gereja, Alkitab tidak selalu dijadikan otoritas tunggal, misalkan katolisisme yang menekankan tradisi sebagai otoritas.  Hal ini menimbulkan gerakan reformasi untuk menegakkan sola scriptura.  Akan tetapi, kemudian gerakan liberalisme menekankan otonomi dan rasio sebagai otoritas atas kebenaran.  Hal ini menimbulkan gerakan teologia sukses yang berusaha mengembalikan otoritas Alkitab, akan tetapi pandangan ini masih menghasilkan akses penafsiran yang sering bersifat harafiah dan tidak kontekstual  (Herlianto, Manipulasi Ayat-ayat Alkitab [Bandung: Kalam Hidup, 1994] 5-8).
[35]Ibid 12.
[36]Johnson and VanVonderen, The Subtle Power 20.
[37]Yancey, Disapointment 16.
[38]Lih. J. T. Murphree, Bila Tuhan Mengatakan Kamu OK (Jakarta: Cipta Loka Caraka, 1988) 43-44; Erwin W. Lutzer, Ten Lies about God (terj. Hari Suminto; Batam: Gospel, 2002) 205; Johnson and VanVonderen, The Subtle Power 37-38; Cloud, Changes that 293-293.  Juanita dan Ryan, Pemulihan dari Pelecehan Rohani 36-37.
[39]Lih. Grayson, Healing Hurts 125-126; Juanita & Ryan, Pemulihan dari Pelecehan Rohani 32.
[40]Lih. Richards, Bagaimana Aku Dapat 46-47; Juanita dan Ryan, Pemulihan dari Pelecehan Rohani 27, 55.
[41]Lih. Richards, Bagaimana Aku Dapat 46.
[42]Lih. Juanita & Ryan, Pemulihan dari Pelecehan Rohani  22-23; Allender, Hati yang Luka  15.
[43]Lih. Cloud, Perubahan-perubahan 87; David A. Seamands, Kesembuhan Kasih Karunia (Bandung: Kalam Hidup, 1997) 77-79.
[44]Juanita & Ryan, Pemulihan dari Pelecehan Rohani 18.
[45]Cloud, Perubahan-perubahan 88, 189-190.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; kota benteng kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah.