"Masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang"

Rabu, 27 April 2011

Hakekat, Tujuan dan Bentuk Pelayanan Pastoral Pernikahan




HAKEKAT, TUJUAN, DAN BENTUK

PELAYANAN PASTORAL PERNIKAHAN

(Bachtiar Sihombing, MACE)


PENDAHULUAN
H. Norman Wright di dalam bukunya So You’re Getting Married mengatakan bahwa pernikahan adalah sebuah hadiah, sebuah kesempatan untuk belajar tentang cinta, sebuah perjalanan yang harus kita lalui dengan berbagai pilihan dan konsekuensi, dan sebuah panggilan untuk melayani, bersahabat dan menderita.[1]  Atau dengan kata lain, pernikahan adalah sesuatu yang maknanya jauh lebih dalam dari sekedar persatuan dua insan yang saling mencintai.
Hal yang sama juga diajarkan oleh Alkitab.  Karena itu, tidak heran apabila di dalam Alkitab terdapat banyak sekali catatan-catatan yang berkaitan dengan kehidupan pernikahan dan keluarga.  Sebagai contoh, kita bisa melihat banyak sekali catatan kehidupan keluarga dari para pemimpin yang terkemuka, seperti Abraham, Musa, dan Daud.[2]  Tuhan Yesus sendiri, meski Ia tidak menikah, menyetujui lembaga pernikahan dan keluarga.  Kalau kita perhatikan kitab Matius, Ia melakukan mujizat yang pertama kali dalam perjamuan kawin.  Selain itu, Tuhan Yesus juga mengatakan bahwa pernikahan adalah sesuatu yang abadi, karena yang mempersatukan suami-isteri adalah Allah sendiri (Mrk. 10-5-9).  Bagian-bagian tersebut menunjukkan betapa berharganya pernikahan di mata Allah.
Namun kejatuhan manusia ke dalam dosa (Kej. 3) telah menghancurkan semua itu.  Alkitab mencatat banyak sekali kehidupan pernikahan yang mengalami masalah, seperti perceraian, perzinahan, ketidak setiaan, dan keluarga yang berantakan.  Akibatnya banyak orang yang menganggap bahwa pernikahan yang langgeng tidak mungkin terjadi lagi, dan mereka takut untuk membangun pernikahan.
Masalah ini harus menjadi perhatian utama dari setiap hamba Tuhan.  Karena kemungkinan jemaat mereka akan menghadapi masalah-masalah tersebut di dalam kehidupan pernikahan mereka.  Dan seringkali para hamba Tuhan menjadi tempat untuk mengadu dan meminta jalan keluar.
Ada banyak sekali cara yang ditempuh oleh hamba-hamba Tuhan dalam menyikapi masalah ini, dan salah satunya dengan mengadakan konseling pra-pernikahan.  Konseling ini sangat penting, karena konseling ini dapat membantu setiap pasangan yang akan menikah untuk mengenal pasangan mereka dan melihat hal-hal yang akan mereka hadapi dalam kehidupan pernikahan, sehingga beberapa masalah yang mungkin terjadi dapat dicegah.
Karena melihat manfaat tersebut, maka ada banyak hamba Tuhan yang mulai mendorong jemaatnya untuk mengikuti koseling pra-pernikahan sebelum menikah.  Namun untuk melakukan sebuah konseling pra-pernikahan, setiap hamba Tuhan dan konselor Kristen perlu mengerti terlebih dahulu bentuk-bentuk konseling terhadap pasangan yang akan menikah, dan hal-hal yang harus dibahas di dalam konseling tersebut.
Karena melihat kebutuhan akan pengetahuan tentang bentuk-bentuk konseling dan hal-hal yang harus dibahas di dalam koseling pra-pernikahan, maka penulis menyusun makalah ini.  Harapan penulis, makalah ini dapat menolong setiap hamba-hamba Tuhan untuk mempersiapkan jemaat-jemaat yang akan menikah, sehingga beberapa masalah-masalah yang mungkin terjadi dapat dicegah.


I. 1.  Hakekat


Saat yang tepat untuk dapat memulai menangani masalah-masalah dalam pernikahan dan keluarga adalah sebelum masalah itu sendiri timbul.  Secara ideal, persiapan pernikahan dimulai ketika seorang individu masih berada pada masa kanak-kanak.  Jikalau orangtuanya mempuanyai hubungan yang baik sebagai suami istri, tentu anak-anak tersebut akan belajar membangun pernikahan yang baik di kemudian hari.
Apapun yang mereka pelajari dari rumah tangga atau keluarga akan mempengaruhi sikap hidup di kemudian hari.  Banyak pasangan mengahadapi hari pernikahan mereka dengan perasaan campur aduk antara keinginan yang meluap-luap dan keragu-raguan.  Dengan menolong kelaurga untuk menajdi model bagi anak-anak mereka, pemimpin gereja memberikan sumbangsih yang sangat berharga untuk suksesnya pernikahan-pernikahan yang akan datang.[3]
         Kalau kita perhatikan hakekat dari melakukan Konseling Pranikah dari sudut kekristenan adalah karena kita menyadari bahwa konseling Kristen itu memiliki keunikan, yaitu:
1.      Orang Kristen percaya, bahwa Allah menciptakan langit, bumi serta segala isinya, dan menolong segala yang ada dengan firmanNya yang penuh kuasa (Ibrani 1:1-3).  Allah menciptakan manusia dengan segala kebebasannya (I Yoh 1:8-9) dan Kristus mati untuk menebus segala dosa dan kesalahan kita (Ibrani 7:24-25; I Tim 2:4-6).
2.      Konseling Kristen mempunyai misi yang khusus, yaitu memperkenalkan Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi dan Penebus dosa, sehingga orang Kristen tidak saja mengakui segala dosa, tetapi juga memperoleh anugerah pengampunan dosa, diperdamaikan dengan Allah dan memulai hidup baru yang dipimpin oleh Roh Kudus.
      Memang ada banyak konselor yang tidak pernah berbicara mengenai Kristus dalam percakapan konselingnya, tetapi seringkali juga banyak konselor yang membicarakan hal-hal rohani dengan gegabah atau terlalu cepat.  Seorang konselor harus sensitif terhadap pimpinan Roh Kudus, dan percaya, bahwa Ia akan membimbing dan menunjukkan saatnya yang tepat untuk berbicara mengenai hal rohani.  Orang-orang yang datang pada kita dan minta bimbingan biasanya datang dengan persoalan yang kompleks, baik jasmani, gejala-gejala kejiwaan maupun kebutuhan rohani.  Karena itu, jangan kita hanya menekankan hal yang spiritual dan melupakan gejala yang lain, yang juga harus diatasi; ataupun sebaliknya kita memperhatikan gejala-gejala jasmani dan kejiwaan saja serta meremehkan kebutuhan rohani.  Hukum utama dan amanat Agung mengajarkan kepada kita untuk melihat atau memfokuskan diri pada seluruh keberadaan manusia dan kebutuhannya. 
3.      Konseling Kristen mempunyai metode yang unik. 
Baik konseling Kristen maupun konseling non-Kristen, menekankan “listening”, “empathy”, tanya jawab yang terarah, pemberian dorongan, mengkonforntasikan konsele dengan kelemahan/kesalahannya, dan lain-lain; namun konselor Kristen memakai metode-metode itu sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab.

I. 2. Tujuan Pelayanan dan Pastoral anggota jemaat

         Konseling persiapan pernikahan bertujuan untuk mempersiapkan dan menolong individu, pasangan-pasangan, bahkan kadang-kadang anggota keluarga yang lain untuk menciptakan suasana pernikahan yang bahagia.  Seperti halnya dengan pencegahan penyakit yang dilakukan untuk mencegah timbulnya penyakit dan menjaga kesehatan tubuh, demikian juga dengan bimbingan persiapan pernikahan.  Bimbingan persiapan pernikahan diharapkan untuk dapat mencegah timbulnya kesulitan dalam pernikahan dan kehidupan rumah tangga, disamping tentunya untuk menolong membangun hubungan pernikahan yang sehat dan memuaskan.  Dalam konseling ini, paling tidak ada tujuan yang harus diperhatikan, yaitu[4]



I. 3.  Bentuk Pelayanan dan Pastoral Anggota Jemaat Yang Akan membentuk Keluarga Baru
            Sebenarnya, tindakan gereja dalam hal pelayanan dan pastoral terhadap anggota jemaat yang akan membentuk keluarga baru bukanlah dimulai ketika jemaat itu akan menikah akan tetapi memiliki beberapa tahap, yaitu:[5]
1.         Melalui penggembalaan bagi keluarga-keluarga kristen. 
Dalam hal ini, gereja dapat melakukan pembinaan hari demi hari, baik itu melalui khotbah-khotbah yang bertemakan kehidupan pernikahan atau keluarga; pembinaan pada saat-saat pembesukan.
2.         Melalui Pembinaan anak-anak remaja dan pemuda. 
Dalam hal ini pelayanan dan pastoral dapat dilakukan dengan memberikan penjelasan-penjelasan tentang:
-          Bagaimana mereka menemukan teman hidup,
-          Bagaimana mempersiapkan diri dalam pernikahan,
-          Konsep keluarga Kristen yang benar,
3.         Melakukan katakisasi pernikahan.
Dalam katakisasi ini, muatan pembahasan menekankan beberapa segi, yaitu:
a.       Theologis, menekankan tentang pernikahan menurut kebenaran iman Kristen.
b.      Psikologis, menekankan tentang pengenalan pribadi masing-masing, hal-hal mengenai cara berinteraksi, komunikasi, dll.
c.       Medis, penekanan akan pengenalan dari sudut medis tentang pernikahan; hubungan seksual, alat kontrasepsi yang baik, pemeliharaan kesehatan.   
  
1.      Supportive – Konseling, yaitu bentuk konseling dengan memberi penghiburan dan penguatan bagi mereka yang berada dalam pergumulan dan penderitaan.   
2.      Confrontational – Konseling, yaitu bentuk konseling yang langsung memperhadapkan si konsele dengan kesalahan-kesalahan yang menyebabkan adanya masalah-masalah itu.  Dalam hal ini, konfrontasi tidak hanya terbatas pada diskusi mengenai dosa atau tingkah laku yang buruk saja, tetapi menolong konsele untuk lebih memahami tindakan mereka sendiri, mendorong mereka untuk mendengar apa yang mungkin tidak mereka sukai, bahkan menolong mereka untuk melakukana langkah-langkah perbaikan yang selama ini mereka tolak.
3.      Educative – Konseling, yaitu konseling harus juga meliputi pengajaran dimana tingkah laku yang tidak efektif dapat diperbaiki dan konsele ditolong untuk belajar tingkah laku yang lebih baik.  
4.      Spiritual – Konseling.  Memang setiap konseling Kristen adalah spiritual konseling, tetapi yang menjadi masalah adalah bahwa seorang konselor tidak bisa secara sembarangan mengemukakan hal-hal rohani apalagi memakai hal-hal rohani sebagai topeng,  sebab adakalanya problema yang dikemukakan oleh konsele adalah hal-hal non-spiritual, atau adakalanya si konsele memakai hal-hal rohani untuk menyembunyikan masalah yang sebenarnya, atau yang sebaliknya yaitu menyembunyikan kebutuhan akan hal-hal rohani.
5.      Group – Konseling, bentuk konseling ini adalah melibatkan beberapa orang sekaligus (mungkin itu kedua belah pihak yang bermasalah, atau pihak keluarga).  Keunikan dari bentuk konseling ini adalah seorang pemimpin dapat menyediakan tempat untuk kerja sama dalam membagikan perasaannya secara jujur, saling belajar dari pengalaman orang lain, saling mendukung, menasihati, dan menolong satu terhadap yang lain.
6.      Informal – Konseling, yaitu bentuk konseling yang dilakukan di tempat yang tidak formal seperti kantor tetapi dilakukan di ruang tunggu, di rumah, ruang pertemuan atau bahkan di jalan.
7.      Preventive – Konseling, yaitu bentuk konseling yang memberikan gambaran-gambaran problema yang mungkin akan timbul selanjutnya bagi si konsele sehingga si konsele dapat mengatasinya sedini mungkin.  

Sebenarnya di dalam bentuk-bentuk pelayanan yang akan dilakukan di dalam proses pembimbingan jemaat yang akan menikah, para pembimbing juga harus memperhatikan dengan apa yang disebut Fase-Fase Percakapan dalam Konseling[6]

1.      Fase Introduction – Understanding (Pendahuluan)
Pada permulaan konseling, paling tidak ada tiga tujuan yang harus dicapai, yaitu bertemu dengan konsele, membangun hubungan baik, dan menjelaskan persoalan yang dihadapi.
2.      Fase Goal – Setting  (Penetapan Goal)
Konselor menganjurkan konsele untuk membuat daftar hal-hal yang spesifik yang dapat mereka lakukan.  Tetapkan kapan dan bagaimana tujuan-tujuan itu akan dicapai.  Mintalah kepada Tuhan untuk menolong konsele mengerjakan apa yang harus dia capai dalam setiap konseling session.
3.      Fase Solution – Activity (Mengerjakan penyelesaian)
Dalam hal ini konselor dan konsele tidak hanya membicarakan problema dan kemungkinan untuk mengatasinya, tetapi juga mencoba setiap kemungkinan.  Jika memang tidak berhasil, konselor harus melihat pada persoalannya kembali, mendiskusikan, mengevaluasi cara-cara yang lalu dan dicoba lagi.
4.      Fase Termination – Launching (Terminasi Akhir)
Sebenarnya tujuan dari konseling adalah supaya konsele mampu mengatasi masalahnya sendiri.  Oleh karena itu, fase terakhir dari konseling adalah titik dimana konsele dituntun pada suatu fase kehidupan yang baru untuk mengatasi setiap problemanya sendiri dalam kehidupannya bersama Tuhan.

            Cara pendekatan komunikasi antara pembimbing dan  yang dibimbing:

1.      Pembimbing biasanya dipandang sebagai seorang ahli yang dapat menganalisa persoalan, mengerti akan pemecahannya dan mampu mengkomunikasikan jalan keluar tersebut kepada konsele.  Jadi, konsele hanya datang untuk menerima petunjuk apa yang harus dilakukannya. Tentu saja ini berarti, bahwa tanggung jawab dan beban terbesar terletak pada bahu konselor.[7]
2.      Jika dalam proses pembinaan terjadi atau terdapat sebuah masalah di dalam kedua pasangan yang akan menikah maka mereka diberi kesempatan untuk mengatasi persolannya sendiri, yaitu dengan memberi kebebasan pada mereka untuk menggumulinya.  Pembimbing tidak memberikan diagnosis, menganjurkan jalan keluar, atau memberikan terapi, tetapi ia lebih banyak mendengar, kadang-kadang menyimpulkan apa yang sudah didengar dan memberikan suasana konseling yang hangat, sehingga masing-masing calon mempelai bebas mengeluarkan isi hatinya, menyatakan perasaannya, dan tanpa disadari akhirnya ia menemukan jawab atas persoalannya.[8]
3.      Adakalanya Pembimbing, kedua mempelai dan kedua belah pihak keluarga sama-sama mendiskusikan persoalan, dalam hubungan mereka yang equal, sehingga keduanya dapat mengambil keputusan bagaimana sebaiknya persoalan tersebut diatasi.
 Ketiga metode/pendekatan ini biasanya mencerminkan kepribadian atau kebudayaan suatu bangsa.  Dalam masyarakat yang sangat menghormati orang yang lebih tua, ataupun pemimpin-pemimpin mereka, biasanya konseling lebih cenderung memilih pendekatan pertama.  Sedang dalam masyarakat yang lebih demokratis, pendekatan yang kedua dan ketigalah yang lebih sering kita jumpai.
Mana yang lebih praktis, dan lebih meyakinkan? Tentu saja bergantung kepada persoalannya, kepada apa yang diharapkan konsele maupun kepada pribadi konselor sendiri.  Dalam pelayanan Tuhan Yesus selama di dunia, kadangkala Ia memakai cara pertama dan sangat autoritative dalam menghadapi para imam besar dan orang-orang Parisi. Tetapi, Ia menegur dengan lebih lunak ketika bersama dengan dua orang dalam perjalana menuju Emaus setelah kebangkitanNya.  Demikian juga dalam percakapaNya dengan Nikodemus, Ia menggunakan pendekatan yang lebih dari hati ke hati, dan  kepada perempuan yang sakit (yang memegang jubahNya) Tuhan menghardik dengan lembut.  Sedangkan kepada anak-anak, Ia memeluk dan membawa mereka dekat kepadaNya; dan dengan tiap-tiap muridNya Ia memberikan pendekatan yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA


Allender, Dan B. Hati Yang Luka.  Jakarta: Gunung Mulia, 2001.
Barney, Kenneth. Rumah Tangga Kristen. Malang: Gandum Mas, 1977
Channing, Nathanael. Diktat Teologi Pastoral I.  Malang: SAAT, 1994.
Collins, Garry R. Konseling Kristen Yang Efektif.  Malang: SAAT, 2002.
Dobson, James C. Love for a Lifetime.  Waco: Word,1983.
Dugherty, Billy Joe. Buiding Stronger Marriages and Families. Tulsa: Harrison, 1991
Gunadi, Paul.  Bahan Kuliah Konseling Pranikah.  Malang: SAAT
Hamilton, Victor P.  The New International Commentary on The Old Testament-The Book of Genesis 1-17.  Grand Rapids: William B. Eerdmans, 1991.
Hybels, Bill, et. al.  Dipertemukan Untuk Dipersatukan.  Jakarta: Harvest, 2002.
Jackson, Dave, et. al.  .Memulai dan Membangun Keluarga Bersama.  Malang: SAAT, 2000.
Lederer, William J., et. al.  The Mirages of Marriage. New York: W. W. Norton, 1968.
Mace, David, et. al.  Three Essential For a Successful Marriage. USA: Victor, 1988.
Meyer, Joyce.  Perhiasan Kepala Ganti Abu. Jakarta: Metanoia, 2001.
Scheunemann, D.  Romantika Kehidupan Suami Istri.  Malang: Gandum Mas, 1989.
 Small, Dwight Hervey, “Marriage as Mutual Servanthood,” Husbands and Wives.  USA: Victor, 1988.
Soesilo, Vivian A.  Bimbingan Pranikah.  Malang: SAAT, 1998.
Susabda, Yakub B.  Pastoral Konseling I.  Malang: Gandum Mas, 1996.
Tillman, William M., Jr., et. al.  The Bible and Family Relations.  Nashville: Broadman, 1983.
Trisna, Jonathan A.  Pernikahan Kristen Suatu Usaha Dalam Kristus.  Jakarta: ITKI, 2000.
Worthington, Everett L.  Counseling Before Marriage.  USA: Word, 1990.
Wright, H. Norman.  So You’re Getting Married.  Yogyakarta: Gloria, 1998.


[1] H. Norman Wright, So You’re Getting Married (Yogyakarta: Gloria, 2000) 9-10.
[2] Gary R. Collins, Konseling Kristen Yang Efektif (Malang: SAAT, 2002) 102.
[3] Ibid, 103.
[4] Ibid, 104-110.
[5] Bdk. dengan Nathanael Channing, Diktat Kuliah Teologi Pastoral I  (Malang: SAAT, 1994) 75.
[6] Collins, Konseling 44-50.
[7] Garry R. Collins, dalam bukunya Konseling Kristen Yang Efektif, mengatakan bahwa dalam bidang konseling metode pendekatan ini disebut dengan Directive – approaches. [Ibid, 8-10]
[8] Dalam bidang konseling metode pendekatan ini disebut dengan Permissive – approaches. [ Lih. Ibid]

Selasa, 26 April 2011


PRINSIP-PRINSIP KEHIDUPAN PERNIKAHAN

(Bachtiar Sihombing, MACE)




H. Norman Wright mengatakan, ”Pernikahan Kristen adalah sebuah komitmen yang mencakup tiga pribadi, yakni suami, istri dan Yesus Kristus.  Pernikahan adalah ikrar untuk saling setia dan tunduk.  Pernikahan adalah kesempatan bagi masing-masing pribadi untuk menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan dan bakat yang dimilikinya.”[1]  Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa pernikahan bukan hanya suatu relasi kasih antara dua insan.  Pernikahan merupakan suatu komitmen antara dua manusia yang mengandung tanggung jawab di dalamnya.  Tanggung jawab yang harus dipikul oleh pasangan suami-istri tersebut.  Dan untuk menunaikan tanggung jawab itu dengan baik, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan.


1.   Mengevaluasi Alasan-Alasan Yang Ada Di Balik Sebuah Pernikahan
Ada banyak sekali alasan-alasan seseorang menikah, selain alasan saling mencintai.  Dan di antara sejumlah alasan-alasan mengapa seseorang menikah terdapat beberapa alasan yang salah.[2]
a.       Agar diperhatikan.  Sebagian orang melihat pernikahan sebagai suatu benteng pengaman yang sangat mereka rindukan.  Mereka melihat atau membayangkan kekuatan yang ada pada pasangannya.  Jika pasangan itu saling membagi dan memberi kekuatan, maka keintiman dapat dibangun.  Namun bila keinginan dari salah seorang pasangan hanya untuk “terus menerus diperhatikan,” terjalinnya keintiman pun akan terhambat.
b.      Karena kehamilan.  Kenyataan menunjukkan, sekitar sepermpat dari jumlah pernikahan terjadi karena si pengantin wanita hamil.  Mungkin banyak dari pernikahan ini tidak akan terjadi jika sang wanita tidak hamil.  Penelitian terhadap pernikahan semacam ini menunjukkan adanya hubungan antara kehamilan di luar nikah dengan ketidakbahagiaan dalam pernikahan.  Dengan anugerah Allah, pernikahan ini tidak harus berakhir atau kurang bahagia dibanding yang lain; pengampunan dari Yesus Kristus dapat mempengaruhi situasi ini sebagaimana yang lain.
c.       Ingin mencoba lagi.  Hal ini terjadi ketika seseorang mencari pasangan baru segera setelah pernikahannya berakhir.  Di satu sisi, ini adalah usaha keras untuk menunjukkan bahwa ia masih menarik bagi orang lain kepada mantan pasangannya.  Pernikahan seperti ini patut dipertanyakan karena pernikahan yang terjadi masih berdasar pada hubungan dengan pasangan yang dulu dan bukan dengan pasangan yang baru.
d.      Pemberontakan.  Hal ini terjadi baik dalam keluarga sekuler maupun keluarga Kristen.  Dalam situasi ini orang uta berkata tidak dan pasangan yang hendak menikah berkata ya.  Ini adalah demonstrasi dari kontrol seseorang terhadap hidupnya sendiri dan dapat menjadi usaha untuk menunjukkan kemandirian.  Sayang sekali, orang itu menggunakan pasangannya untuk membalas orang tuanya.
e.       Melarikan diri dari lingkungan keluarga yang tidak bahagia.  Beberapa penyebab ketidakbahagiaan itu antara lain pertengkaran, mabuk-mabukan dan penganiayaan.  Tipe pernikahan ini beresiko, karena keterkatan sering terjadi sebelum perasaan-perasaan yang murni dari saling mempercayai, menghormati dan mencintai mendapat kesempatan untuk tumbuh.
f.       Kesepian.  Sebagian orang tidak tahan membayangkan akan tinggal seorang diri sampai akhir hidupnya; tetapi mereka tidak menyadari bahwa bisa saja seseorang menikah tetapi masih merasakn kesepian yang mengerikan.  Keintiman tidaklah instan, tetapi harus dibangun melalui saling berbagi dan keterlibatan selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun.  Pelarian dari kesepian dapat menyebabkan ketegangan pada hubungan tersebut.  Orang yang demikian dapat berkata, “Saya sangat kesepian.  Bersamalah denganku setiap waktu dan buatlah aku bahagia.”
g.      Penampilan fisik.  Sebagian orang menikah karena tertarik secara fisik kepada seseorang.  Masyarakat kita sangat memuja kemudaan dan kecantikan.  Seringkali kita menentukan standar penampilan fisik pasangan kita bukan untuk memenuhi kebutuhan kita, tetapi hanya untuk memperoleh pengakuan dan kekaguman dari orang lain.  Sebagian orang bahkan membangun konsep diri berdasarkan atribut fisik pasangan mereka.
h.      Tekanan sosial.  Secara langsung atau tidak, hal ini dapat menjadi alasan untuk menikah dan datang dari berbagai sumber.  Sahabat, orang tua, gereja, dan sekolah membawa pesan, “Menikah itu normal; agar memenuhi norma maka kamu harus melakukannya.”  Di beberapa perguruan tinggi, penyakit yang dikenal sebagai “kepanikan senior” terjadi ketika para mahasiswa membuat keputusan terlalu cepat untuk menikah.  Pertunangan dan pernikahan mungkin dapat menjadi alat untuk memperoleh status; sehingga kadang rasa takut tertinggal dapat ditimbulkan orang lain.  Di beberapa gereja upaya perjodohan menjadi populer ketika seorang pendeta muda yang belum menikah datang; sehingga seorang pendeta muda harus menikah terlebih dahulu sebelum ia siap atau menginginkannya, atau ia harus menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mencari gereja yang mau menerima pendeta yang belum menikah.
i.        Rasa bersalah dan kasihan.  Hal ini masih menjadi alasan berlangsungnya pernikahan.  Menikahi seseorang karena rasa kasihan yang ditimbulkan oleh adanya cacat fisik, penyakit atau kemiskinan tidak akan membangun hubungan pernikahan yang stabil.
j.        Menikahi kebutuhan fisik dan emosinya sendiri.  Mereka memiliki kebutuhan pribadi untuk diperhatikan, dibahagiakan, mendapatkan kestabilan emosi, menjadi orang tua, dan lain-lain.  Pemenuhan kebutuhan sangat penting.  Namun orang-orang ini mencipta sebuah bayangan pribadi yang mereka anggap mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut; kemudian mereka menikahi bayangan tersebut.

Alasan-alasan yang salah dapat menyebabkan kedua pasangan yang menikah akan mengalami masalah di dalam pernikahan mereka.  Oleh karena itu, setiap pasangan yang akan menikah harus bertanya kepada dirinya sendiri, “Apa alasan saya menikah dengannya?”

2.   Menjadikan Allah Sebagai Pemimpin Keluarga (Kol. 1:18)
Dalam pernikahan Kristen, Kristus harus dijadikan sebagai Kepala atas keluarga.  Dengan demikian setiap keluarga Kristen harus mengutamakan Kristus di atas segala sesuatu dan melibatkannya di dalam setiap aspek kehidupan keluarga.
Untuk menjadikan Kristus sebagai pemimpin rumah tangga, setiap pasangan suami-isteri harus terlebih dahulu menjadikannya sebagai raja atas kehidupan mereka.  Karena hubungan dengan Kristus akan mempengaruhi hubungan dengan orang lain.[3]

3.   Komunikasi
Komunikasi merupakan sebuah proses tukar menukar informasi yang berlangsung secara teratur antara dua orang dengan menggunakan bahasa, surat tertulis, pembicaraan di telepon, gerak-gerik tubuh, dan cara-cara lain yang sama baiknya.[4]  H. Norman Wright mendefinisikan komunikasi sebagai proses berbagi diri, dengan, atau tanpa kata-kata agar pihak yang lain dapat memahami dan menerima maksud kita.[5]  Dengan kata lain, komunikasi merupakan suatu proses timbal balik antara dua individu yang berelasi.
Dalam sebuah pernikahan, komunikasi memegang peranan yang sangat penting.  Bahkan komunikasi telah menjadi suatu unsur yang tidak dapat dipisahkan dengan pernikahan.  William J. Lederer dan Don D. Jackson mengatakan bahwa ada tiga aspek dalam setiap pesan yang dikomunikasikan, yakni:[6] (1) aspek isi-menunjuk pada apa yang disampaikan atau dituliskan; (2) aspek bentuk penyampaian-membantu mengerti natur dan maksud dari pesan, menunjuk bagaimana seharusnya pesan tersebut dimengerti; dan (3) aspek konteks-menentukan implikasi-implikasi secara budaya dari situasi komunikasi.
Karena komunikasi berada pada posisi yang vital di dalam pernikahan, tidak jarang perselisihan di dalam pernikahan juga disebabkan karena kesalahpahaman dalam mengkomunikasikan sesuatu.  Kesalahpahaman itu terjadi karena seorang suami atauistri menginterpretasikan pesan yang disampaikan dalam konteks yang berbeda dengan apa yang disampaikan oleh pasangan mereka.  Akibatnya sang penerima pesan akan menangkap maksud yang berbeda dengan apa yang coba disampaikan oleh sang pengirim.[7]  Oleh karena itu, setiap pasangan suami-istri harus belajar untuk memahami jalan pikiran pasangannya supaya kesalahpahaman seperti ini dapat dihindari.

4.   Kepercayaan
William J. Lederer mendefinisikan kepercayaan sebagai suatu kepercayaan kepada seseorang atau benda, atau kebenaran dari sebuah pernyataan.[8]  Kepercayaan ini tidak diciptakan oleh penantian.  Kepercayaan tumbuh sebagai hasil dari sebuah relasi matang.  Relasi seperti ini membutuhkan keterbukaan dari  kedua belah pihak sehingga  mereka dapat dikenal oleh pasangan mereka.  Selain keterbukaan, relasi seperti ini juga terbentuk melalui kemampuan dari pasangan tersebut untuk mengerti pasangannya dan  bersikap fleksibel, sehingga dapat mengakomodasi perubahan-perubahan tanpa merugikan salah satu pihak.[9]

5.   Kerja Keras
Pernikahan bukan sesuatu yang terjadi begitu saja, ataupun sesuatu yang secara otomatis  berjalan dengan baik.  Pernikahan adalah sebuah proses pertumbuhan sebuah relasi ke arah kematangan, yang membutuhkan usaha dari kedua belah pihak untuk membangun  pernikahannya sampai akhir hidupnya.[10]  Karena itu, tanpa usaha yang keras, pernikahan tidak akan dapat berjalan dengan baik.  David dan Vera Mace mengatakan, “The first essetial for a good marriage is commitment-readiness to work, long and hard, at the task of building a marriage.  Nobody else can do this for you.”[11]

6.   Peran Suami-Istri Di Dalam Keluarga Kristen
Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa Allah memisahkan peran antara suami dan istri supaya keduanya dapat saling melengkapi.  Salah satu bagian yang membahas perbedaan peran antara suami dan istri adalah Efesus 5:21-32.


a.      Peran suami di dalam sebuah pernikahan
         Ayat 22 mengatakan, “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan.”  Kemudian ayat 24 mengatakan agar para isteri tunduk di dalam segala sesuatu.  Sekilas kedua ayat tersebut seperti meletakkan para suami sebagai bos di dalam keluarga.
Namun Paulus tidak bermaksud seperti itu.  Paulus memberi perintah demikian untuk menyatakan bahwa seorang suami, sebagai kepala keluarga, memiliki tanggung jawab yang unik terhadap kesejahteraan dan berfungsinya sebuah pernikahan. [12]  Seorang suami bertanggungjawab kepada Allah.  Bersama dengan kedudukan sebagai kepala, Allah memberinya wewenang yang penting untuk memenuhi tanggung jawabnya.
Selain itu, suami harus menyadari bahwa kepemimpinan yang diberikan oleh Allah bukan berarti Allah memberi kebebasan yang seluas-luasnya untuk membawa keluarganya tanpa terikat oleh apapun, termasuk Tuhan.  Kepemimpinan tersebut harus dilaksanakan di bawah kuasa Tuhan yang memberinya hak tersebut.
Selain itu, suami juga harus menyadari bahwa wewenang yang telah diberikan oleh Allah bukan berarti kedudukan mereka berada di atas posisi seorang isteri.  Kedudukan mereka tetap sejajar dengan kedudukan isteri mereka.  Wewenang tersebut  diberikan oleh Allah supaya setiap keluarga dapat berfungsi dengan baik.
Selain agar keluarga dapat berfungsi dengan baik, wewenang itu juga diberikan supaya kasih Allah dapat mengalir ke tengah-tengah keluarga.  Dwight Hervey Small mengatakan, “Headship functions as the love of Christ flows through the husband to his wife.  Submission, likewise, functions as Christ’s love flows through the wife to her husband.”[13]  Hal ini baru dapat dimungkinkan terjadi apabila pasangan suami-istri memegang komitmen mereka kepada Tuhan Yesus Kristus, kepada satu sama lain, dan kepada mandat pernikahan yang telah dilukiskan di dalam surat Efesus.
Oleh karena itu, setiap isteri harus menyadari bahwa perintah tersebut bukan berarti Allah memperlakukan mereka dengan tidak adil.  Karena di balik perintah tersebut terdapat sebuah tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh setiap suami.  Dan salah satu tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh seorang suami adalah memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh isterinya.  Dengan kata lain,setiap suami harus memperhatikan pertumbuhan rohani dan pengembangan diri dari isterinya.  Selain mengembangkan potensi isteri, suami juga bertanggung jawab untuk mengasihi isterinya sama seperti Allah telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya kepada bagi jemaat       (Ef. 5:25).
b.      Peran isteri di dalam sebuah pernikahan
Ayat 22-24 telah menyatakan dengan jelas bahwa seorang isteri harus tunduk kepada suaminya, sama seperti jemaat tunduk kepada Tuhan sang kepala.  Perintah ini, secara tidak langsung, melukiskan keberadaan Kristus sang kepala yang telah merendahkan dirinya menjadi seorang hamba (Flp. 2:8).  Hal ini menunjukkan bahwa seorang isteri, dengan dilandasi kasih, memiliki tanggung jawab untuk merendahkan dirinya sama seperti Kristus.
Selain itu, perintah tersebut juga mengingatkan setiap isteri akan tugas mereka sebagai seorang penolong (Kej. 2:18, 21-22).  Karena keharmonisan dan kebahagiaan dalam pernikahan juga bergantung pada berfungsi atau tidaknya isteri sebagai penolong.[14] 
Selain demi kehamonisan keluarga, di balik perintah tersebut juga terdapat gambaran bagaimana pentingnya peran seorang isteri dalam mendukung suami mereka.  D. Scheunemann mengatakan, “Seorang isteri yang menghargai dan mengakui kepemimpinan suami dalam rumah tangga, sangat mendukung suaminya, baik dalam karier di luar rumah maupun dalam fungsinya sebagai kepala rumah tangga.”[15]


DAFTAR PUSTAKA


Allender, Dan B. Hati Yang Luka.  Jakarta: Gunung Mulia, 2001.
Barney, Kenneth. Rumah Tangga Kristen. Malang: Gandum Mas, 1977
Channing, Nathanael. Diktat Teologi Pastoral I.  Malang: SAAT, 1994.
Collins, Garry R. Konseling Kristen Yang Efektif.  Malang: SAAT, 2002.
Dobson, James C. Love for a Lifetime.  Waco: Word,1983.
Dugherty, Billy Joe. Buiding Stronger Marriages and Families. Tulsa: Harrison, 1991
Gunadi, Paul.  Bahan Kuliah Konseling Pranikah.  Malang: SAAT
Hamilton, Victor P.  The New International Commentary on The Old Testament-The Book of Genesis 1-17.  Grand Rapids: William B. Eerdmans, 1991.
Hybels, Bill, et. al.  Dipertemukan Untuk Dipersatukan.  Jakarta: Harvest, 2002.
Jackson, Dave, et. al.  .Memulai dan Membangun Keluarga Bersama.  Malang: SAAT, 2000.
Lederer, William J., et. al.  The Mirages of Marriage. New York: W. W. Norton, 1968.
Mace, David, et. al.  Three Essential For a Successful Marriage. USA: Victor, 1988.
Meyer, Joyce.  Perhiasan Kepala Ganti Abu. Jakarta: Metanoia, 2001.
Scheunemann, D.  Romantika Kehidupan Suami Istri.  Malang: Gandum Mas, 1989.
 Small, Dwight Hervey, “Marriage as Mutual Servanthood,” Husbands and Wives.  USA: Victor, 1988.
Soesilo, Vivian A.  Bimbingan Pranikah.  Malang: SAAT, 1998.
Susabda, Yakub B.  Pastoral Konseling I.  Malang: Gandum Mas, 1996.
Tillman, William M., Jr., et. al.  The Bible and Family Relations.  Nashville: Broadman, 1983.
Trisna, Jonathan A.  Pernikahan Kristen Suatu Usaha Dalam Kristus.  Jakarta: ITKI, 2000.
Worthington, Everett L.  Counseling Before Marriage.  USA: Word, 1990.
Wright, H. Norman.  So You’re Getting Married.  Yogyakarta: Gloria, 1998.


[1] Wright, So You’re 12
[2] Ibid, 15-17.
[3] Barney, Rumah 16.
[4] William J. Lederer dan Don D. Jackson, The Mirages of Marriage (New York: W. W. Norton, 1968) 98.
[5] Wright, So You’re 129.
[6] Lih. Lederer, The Mirages 99.  Bandingkan dengan H. Norman Wright yang mengatakan bahwa ada tiga aspek dalam sebuah pesan, yakni (1) isi yang sebenarnya; (2) nada suara; dan (3) komunikasi nonverbal. [Wright, So You’re 135]
[7] Lederer, The Mirages 101.
[8] Ibid, 106.
[9] Ibid, 107.
[10] Ibid, 198.
[11] David Mace dan Vera Mace, “Three Essential For a Successful Marriage,” Husbands and Wives (USA: Victor, 1988) 23.
[12] Dwight Hervey Small, “Marriage as Mutual Servanthood,” Husbands and Wives (USA: Victor, 1988) 204.
[13] Ibid.
[14] Nathanael Channing, Diktat Kuliah Teologi Pastoral (Malang: SAAT, 1994) 71.
[15] D. Scheunemann, Romantika Kehidupan Suami Istri (Malang: Gandum Mas, 1989) 33.
Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; kota benteng kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah.